Filosofi Gundul Pacul

by 00.12 0 komentar
Gundul – gundul pacul cul,
gembelengan
Nyunggi – nyunggi wakul kul,
gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan

Bagi kalian yang lahir atau tinggal di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, lagu ini pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Lagu yang sudah menjadi hal yang sangat biasa sebagai ‘tembang dolanan’ sejak kita masih kecil ini ternyata bukan sekedear lagu permainan, karena dibalik liriknya yang sederhana, ada filosofi mendalam yang terkandung dalam lagu daerah ini.
Lagu Gundul gundul pacul ini ternyata diciptakan pada tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja. Berikut ini adalah filosofi dari tembang Gundul – Gundul Pacul yang membuat saya terkejut ketika mengetahuinya.
Gundul Pacul
Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Jadi gundul adalah kehormatan tanpa mahkota. Pacul adalah cangkul (red, jawa) yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Jadi pacul adalah lambang kawula rendah yang diwakilkan oleh petani.
Gundul pacul artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya atau orang banyak.
Orang Jawa mengatakan pacul adalah Papat Kang Ucul (4 yang lepas). Kemuliaan seseorang tergantung dari 4 hal yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya:
1.       Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat
2.      Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3.      Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4.      Mulut digunakan untuk berkata adil.
Sedangkan kata cul sendiri berarti lepas atau melepaskan. Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatan dari seseorang.


Gembelengan
 Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
 Arti harafiah dari lirik gundul gundul pacul cul, gembelengan adalah jika orang yg di akalnya sudah kehilangan 4 kehormatan dalam indera itu, maka dia akan menjadi GEMBELENGAN (congkak atau sombong). Maksudnya adalah untuk mengingatkan kita bahwa pemimpin yang sebenarnya adalah pemimpin yang mengutamakan rakyat dan tidak sombong pada jabatannya.

Nyunggi Wakul

Nyunggi dalam bahasa jawa berarti menjinjing, sedangkan wakul adalah wadah anyam yang biasanya digunakan masyarakat sebagai wadah nasi. Maksud lirik Nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan adalah, menjadi seorang pemimpin berarti juga menjinjing beban kesejahteraan rakyat yang dilambangkan oleh wakul. Maka dari itu pemimpin yang sebenarnya tidak boleh congkak karena mempunyai tanggung jawab atau merasa sok penting. Karena apabila kita menjadi pemimpin yang sombong, maka akan terjadi WAKUL NGGLIMPANG SEGANE DADI SAK LATAR.
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar artinya adalah wakul tumpah, nasinya akan tumpah kemana – mana. Hal itu berarti apabila pemimpin kita sombong akan jabatan dan kekuasaannya, maka kesejahteraan rakyat akan oleng dan jatuh yang dilambangkan dengan nasi yang tumpah kemana – mana.
Hal itu sesuai dengan keadaan di Indonesia sekarang, potensi kita yang besar akan tetap sia – sia apabila kita masih dipimpin oleh pemimpin yang hanya mementingkan popularitas, jabatan dan uang.
Sekarang banyak sekali pemimpin yang telah melupakan 4 kehormatan Indera manusia. Mata, dibutakan oleh uang dan kejayaan, tertutup pada penderitaan dan masalah kemasyarakatan yang tersebar dimana – mana. Telinga, yang harusnya digunakan untuk mendengar aspirasi rakyat ditulikan oleh bisik – bisik bisnis kotor menggoda yang hanya akan mengeruk uang rakyat. Hidung hanya digunakan untuk mencium aroma makanan mewah da bau uang, tanpa peduli penderitaan rakyat, dan yang terutama MULUT. Kata – kata manis dan bahasa – bahasa intelektual hanya merupakan kedok dari lidah bercabang para pejabat yang sering menipu media dan rakyat kecil dengan kecerdasan linguistik mereka.
Maka dari itu, para calon pemimpin bangsa sekarang hendaklah membaca dan memahami filosofi dari lagu sederhana ini, karena hanya generasi muda Indonesia yang bisa memperbaiki kepemimpinan Indonesia yang semrawut dan penuh dengan KKN ini.


kiki

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 komentar:

Posting Komentar