Have you ever felt sad with no reason?
Like you feel so small and so powerless with the world. You feel like there’s something really wrong with your life, but couldn’t point it out. Or maybe...Wouldn’t.
I constantly feel so sad. I lost the passion for the things I used to love. Like everything has lost its meaning. I always feel torn apart when I’m alone, the sadness just here wrapped me and stab me in the night. But when I’m with other people I act cheerful like usual.
It’s easy to forget this weird feeling when I’m with other people. I don’t know whether my cheerfulness is just a fake mask or I am truly enjoying their companion. But sometimes when I’m around people I felt like want to scream and runaway, hiding with myself alone. At the same time, I’m so scared of being alone.
I like being with my friends. But I want them to listen things that I save inside. My silent scream. I want them to hear that. My parents thought that I’m okay, my friends too. But actually I’m not. I always have this costant feeling like evrything I do in this life is a total mistake. That all my achievement is just a fake medalion, that I’m just lucky. That I’m a talentless people.
Like now I’m feeling so useless. But I’m so tired to even lift my head from pillow.
I feel so tired of everything. I want to take a break from everything but its impossible. I have a responsibility and I think I have messed some, total  mess some. It’s getting worse recently, and I can’t stop blaming myself for everything.
Maybe I have a clue, or I already know why I’m feeling so sad.
I feel I live in a world that not belongs to me.
I feel there’s somewhere that I belong to. Somewhere that I truly belong to.
But admit it means I had to totally destroy everything I built here and start from zero again.
How if that feeling is just an impulse. How can I sure the new world that I dream of really exist? Will it be as disappointing as the life I had now?
No, my life is not disappointing. It’s quite nice, I make a good achievement. I met lots of good people. But still, I feel like this is not things that I want.
But I cannot sure.
I’m so scared.
I feel so alone.




Tepat setelah bom sekutu meluluh lantahkan kota Hiroshima dan Nagasaki, kalimat pertama yang diucapkan oleh Kaisar Hirohito kepada staffnya adalah, “Berapa banyak guru yang masih kita punyai?". Guru sejak dahulu  merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan karena guru-lah yang mengurusi perkembangan pemikiran suatu bangsa. Namun sayang, guru belum mendapatkan tempat yang tinggi di mata orang Indonesia.
Pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah nama guru yang dikenal di negeri ini. Mungkin karena istilah tanpa tanda jasa itulah kaum guru masih sering diremehkan oleh berbagai kalangan. Mungkin karena guru adalah profesi tanpa lencana mengkilat ataupun seragam gagah layaknya TNI ataupun POLRI maka kaum muda pun enggan untuk melirik profesi yang mulia ini.
Padahal guru ibarat pilar bagi masa depan bangsa ini, terutama di bidang sumber daya manusia. Kecerdasan bangsa diperoleh melalui pendidikan yang berkualitas, dan tokoh yang paling terkait dengan dunia pendidikan adalah guru itu sendiri. Namun sayang, nasib guru di negeri kita masih kalah jauh dengan guru – guru di lar negeri, baik dalam sisi finansial maupun apresiasi.
Dalam segi finansial, pendapatan guru di Indonesia masih sangat memprihatinkan dibandingkan dengan negara – negara lain. Dalam lingkup ASEAN saja, Indonesia berada pada urutan nomor dua terbawah, satu tingkat di atas negara Kamboja. Peringkat pertama jumlah gaji terbanyak di negara ASEAN diduduki oleh Singapura. Negara ini menggaji gurunya sebesar 6000 dollar Singapura perbulan atau 11 kali lebih besar dari gaji guru di Indonesia.
Terlepas dari sisi finansial, guru di luar negeri juga merupakan profesi yang sangat dihargai. Hal itu karena kualitas pengajar di luar negeri juga tidak main – main. Di Finlandia yang merupakan negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia, ujian masuk sekolah keguruan jauh lebih sulit dibandingkan dengan ujian masuk sekolah kedokteran maupun sekilah hukum. Professor of Education University of Tampere Finlandia Dr. Eero Ropo pernah mengatakan, “Masyarakat di Finlandia sangat menghargai guru, profesi mengajar ini sangat populer di kalangan anak muda”
Dikatakan pula bahwa  pada tahun 2012, 15 ribu orang melamar menjadi guru. Namun, hanya lima persen yang diterima. Hal itu menunjukkan bahwa guru merupakan profesi yang sangat prestisius di mata orang Finlandia.
Sedangkan di Indonesia?
Sebagian besar siswa tidak akan memilih guru menjadi profesi utamanya. Itu karena mereka menganggap guru tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi pemimpin, memperoleh kekayaan yang banyak, kekuasaan yang cukup, atau pengaruh yang luas. Rendahnya minat menjadi guru bisa kita lihat dari pendaftaran SNMPTN maupunn SBMPTN. Jurusan keguruan tidak pernah bertengger di jajaran jurusan yang memiliki peminat terbesar. Kebanyakan siswa akan lebih memilih jurusan yang dianggap lebih potensial seperti kedokteran, teknik maupun psikologi.
Padahal untuk memperbaiki pendidikan Indonesia, dibutuhkan pendidik yang berkualitas. Namun bagaimana caranya mendapat pendidik yang berkualitas apabila siswa sendiri enggan menjadi guru?
Maka dari itu, negeri ini perlu untuk mengubah profesi guru menjadi profesi yang menjanjikan. Salah satu caranya adalah dengan menaikkan gaji guru. Walaupun secara tidak langsung berpengaruh terhadap kualitas guru, gaji dan mutu pendidikan memang tak terpisahkan. Jika gaji guru ditingkatkan, akan meningkat pula status guru sehingga mampu menarik calon-calon guru yang berkualitas.
Jika peminat untuk profesi guru sudah banyak, maka kini tinggal pemerintah yang secara efektif menyeleksi para peminat itu dan mengambil yang terbaik untuk menjalani profesi guru. Beberapa kebijakan lar negeri tentang guru bisa diadaptasi oleh Indonesia, seperti Finlandia yang tidak mau menerima siswa yang lulus Universitas dengan ranking diluar 10 besar. Atau juga Singapura yang menerapkan kebijakan satu kali kesempatan menjadi guru. Maksudnya, apabila seorang guru dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi mengajar oleh kepala sekolah, maka guru tersebut telah kehilangan kesempatan mengajar di sekolah manapun.
Kita perlu menyadari pentingnya guru bagi pendidikan Indonesia. Jika guru merupakan pilar perkembangan negara kita, maka kita harus mengokohkan pilar tersebut supaya fondasi negara kita tak akan goyah.  Hanya orang – orang berkualitas terbaik yang boleh menjadi guru, karena di tangan orang yang hebat, maka generasi muda kita-pun juga akan menjadi generasi yang hebat.

Saktia Golda Sakina Dewi
Mahasiswa Desain Produk Industri angkatan 2013





Menyambut Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Pohon pada 28 November dan Bulan Desember, harusnya ITS melakukan aksi untuk penyelamatan pohon. Bukan sekedar aksi menanam pohon biasa, namun aksi untuk menanam pohon mangrove yang kini berada pada ujung kepunahan.

 Hutan Mangrove atau yang biasa disebut hutan bakau adalah jenis hutan yang kurang populer di Indonesia. Sungguh mengherankan mengingat betapa besar manfaat mangrove dalam menyelamatkan lingkungan. Selain sebagai habitat bagi berbagai macam satwa dan tanaman, hutan mangrove juga mampu menyerap karbondioksida 10 kali lebih kuat daripada hutan kota.

Selain itu, mangrove juga memiliki kemampuan untuk melindungi pantai dari abrasi dan sebagai filter agar air asin tindak memasuki kawasan daratan. Namun ada satu manfaat yang luar biasa dari hutan mangrove, hal itu adalah kemampuannya untuk melindungi pantai dari hantaman tsunami. 

Menengok kembali tragedi gempa dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam tahun 2004 silam, kita dapat melihat pentingnya hutan mangrove sebagai perlindungan. Pulau Sumuleu yang masih utuh hutan mangrovenya mendapatkan dampak yang lebih kecil dibandingkan daerah aceh yang terhantam tsunami lainnya. Penelitian di Teluk Grajakan, Banyuwangi juga menunjukan bahwa mangrove dapat mereduksi tinggi gelombang sebesar 0,734 dan mengurangi energi gelombang sebesar 19,635 joule.

Pantaslah apabila Jepang yang juga rawan bencana tsunami menanam mangrove sebagai green belt atau sabuk hijau untuk mengurangi efek tsunami. Lantas bagaimana dengan Indonesia? 28 pantai Indonesia dinyatakan rawan terkena dampak tsunami karena hutan bakaunya sudah banyak yang beralih fungsi.

Jawa Timur sendiri merupakan salah satu lokasi yang rawan terkena tsunami. Namun ironsnya, hutan mangrove di Jawa Timur telah sampai di pengujung kepunahan. Di Sidoarjo, 48% mangrovenya telah beralih fungsi. Di surabaya, dari 26 km panjang garis pantai, hanya 8 km saja yang ditanami pohon mangrove.

Populasi mangrove terus menurun karena desakan industri dan pemukiman. Juga karena kurangnya peraturan daerah atau PERDA yang melindungi kelangsungan hidup hutan mangrove. Di Sidoarjo sudah terdapat Perda nomor 17 tahun 2003 yang cukup melindungi keselamatan mangrove di Sidoarjo. Namun di Surabaya, belum ada perda yang melindungi mangrove. Hal ini sangat mengecewakan mengingat dalam Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK) tahun 2018, pemerintah akan menjadikan mangrove sebagai wilayah konservasi.

Melihat ketidak jelasan aturan pemerintah yang melindungi mangrove sementara populasi mangrove terus menurun, akankah kita sebagai kaum terdidik akan diam saja?. Apalagi gerakan penyelamatan mangrove sudah mulai tercium di daerah lain. Contohnya saja mahasiswa UPN Yogyakarta yang mengadakan gerakan penanaman pohon mangrove Oktober Silam.

Kita, civitas akademia ITS yang memiliki konsen cukup besar di bidang kemaritiman seharusnya mulai memperhatikan kondisi mangrove di lingkup Jawa Timur, khususnya di kota Surabaya. Apalagi lokasi ITS yang kebetulan sangat berdekatan dengan kawasan pantai.

Apabila kita menunggu ajakan dari pemerintah, maka usaha penyelamatan mangrove tidak akan kunjung terlaksana. Bukankah lebih baik lagi apabila kita yang menjadi pionir gerakan menyelamatkan mangrove Surabaya? Dengan gerakan ini, siapa tahu kita mampu menginspirasi perguruan tinggi lainnya untuk mulai memperhatikan kondisi hutan mangrove di daerahnya masing – masing. Kita bisa mendapat keuntungan ganda, menyelamatkan lingkungan sekaligus membuat pencitraan terhadap ITS.

Kita perlu mengingat bahwa masalah lingkungan bukan hanya milik mahasiswa Teknik Lingkungan, masalah maritim juga bukan hanya tanggung jawab mahassiswa FTK. Keberlangsungan hidup hutan mangrove merupakan tanggung jawab semua elemen masyarakat mengingat salah satu peran manusia adalah sebagai pengelola lingkungan. Maka belum terlambat bagi kita untuk mulai beraksi guna menyelamatkan hutan mangrove di Indonesia.

Mari kita mulai turun tangan untuk menyelamatkan populasi mangrove!

Selamat Hari Menanam Pohon Indonesia!

Saktia Golda Sakina Dewi

Mahasiswa Desain Produk Industri angkatan 2013


Ketika guru kita mengatakan 2+2=5, akankah kita menurutinya layaknya seorang murid patuh ataukah mengatakan kebenaran? Film ini layaknya sebuah pengingat kita tentang kebenaran dan keberanian kita untuk mengatakannya. Saat ini kita banyak melakukan kebohongan dan mengabaikan nurani dan kebenaran karena rasa takut. Film ini mengingatkan kembali kita tentang arti sebuah keberanian untuk mengatakan kebenaran. Fil yang sangat hebat dan tragis menurut saya.
Recomendasi penuh deh!! :D
For my future husband,
Wherever you are now, when we meet one day, I hope we can love each other until the death takes us apart! 


inspired by these beautiful pictures:









May I see you?
May I talked to you?
May I texted you?
May I call you everyday?
May I hold your hand?
May I hug you?
May I kiss away your tears?
May I be the one who chase away your fears?
May I sleep beside you?
May I woke up everyday in your arm?
May I cooked for you?
May I be the one who borned your children?
May I be the one who take care of you when you're sick?
May I grow old with you?
May I burried beside you?
May I met you again in afterlife?
Darling,
May I love you?:D


hehehe...
Membaca judul yang saya tulis di atas pasti sudah membuat anda pusing dan ogah membacanya :D
itu adalah esai bahasa Inggris yang saya kirim di kompetisi esai International Office ITS yang berhadiah menggiurkan, yaitu studi tour ke Singapura!!! tergiur karena tawaran jalan - jalan gratis itu maka saya pun berusaha menulis esai berbahasa Inggris tentang tema 'ITS dalam menghadapi AEC 2015'. berikut ini poster dari kompetisi yang saya ikuti.

Dengan esai yang agak - agak kacau ini, saya sih berharap minimal lah, jadi 6 karya ter favorit, untung - untung masih dapat duit 500 ribu. Nah, layak tidaknya karya saya, anda yang akan menilai melalui esai yang saya posting di bawah ini.
Gak banyak bacot, monggo dibaca esai kacau saya di bawah ini! :DD
Selamat membaca!