Tepat setelah bom sekutu meluluh lantahkan
kota Hiroshima dan Nagasaki, kalimat pertama yang diucapkan oleh Kaisar Hirohito kepada staffnya adalah, “Berapa banyak guru yang masih kita
punyai?". Guru sejak dahulu merupakan hal yang sangat penting dalam dunia
pendidikan karena guru-lah yang mengurusi perkembangan pemikiran suatu bangsa.
Namun sayang, guru belum mendapatkan tempat yang tinggi di mata orang
Indonesia.
Pahlawan
tanpa tanda jasa. Itulah nama guru yang dikenal di negeri ini. Mungkin karena
istilah tanpa tanda jasa itulah kaum
guru masih sering diremehkan oleh berbagai kalangan. Mungkin karena guru adalah
profesi tanpa lencana mengkilat ataupun seragam gagah layaknya TNI ataupun
POLRI maka kaum muda pun enggan untuk melirik profesi yang mulia ini.
Padahal guru
ibarat pilar bagi masa depan bangsa ini, terutama di bidang sumber daya
manusia. Kecerdasan bangsa diperoleh melalui pendidikan yang berkualitas, dan tokoh
yang paling terkait dengan dunia pendidikan adalah guru itu sendiri. Namun
sayang, nasib guru di negeri kita masih kalah jauh dengan guru – guru di lar
negeri, baik dalam sisi finansial maupun apresiasi.
Dalam segi
finansial, pendapatan guru di Indonesia masih sangat memprihatinkan
dibandingkan dengan negara – negara lain. Dalam lingkup ASEAN saja, Indonesia
berada pada urutan nomor dua terbawah, satu tingkat di atas negara Kamboja.
Peringkat pertama jumlah gaji terbanyak di negara ASEAN diduduki oleh
Singapura. Negara ini menggaji gurunya sebesar 6000 dollar Singapura perbulan
atau 11 kali lebih besar dari gaji guru di Indonesia.
Terlepas
dari sisi finansial, guru di luar negeri juga merupakan profesi yang sangat
dihargai. Hal itu karena kualitas pengajar di luar negeri juga tidak main –
main. Di Finlandia yang merupakan negara dengan kualitas pendidikan terbaik di
dunia, ujian masuk sekolah keguruan jauh lebih sulit dibandingkan dengan ujian
masuk sekolah kedokteran maupun sekilah hukum. Professor of Education University of Tampere
Finlandia Dr. Eero Ropo pernah mengatakan, “Masyarakat di Finlandia sangat menghargai
guru, profesi mengajar ini sangat populer di kalangan anak muda”
Dikatakan pula bahwa
pada tahun 2012, 15 ribu orang melamar menjadi guru. Namun, hanya lima persen
yang diterima. Hal itu
menunjukkan bahwa guru merupakan profesi yang sangat prestisius di mata orang
Finlandia.
Sedangkan di
Indonesia?
Sebagian
besar siswa tidak akan memilih guru menjadi profesi utamanya. Itu karena
mereka menganggap
guru tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi pemimpin,
memperoleh kekayaan yang banyak, kekuasaan yang cukup, atau pengaruh yang luas.
Rendahnya minat menjadi guru bisa kita
lihat dari pendaftaran SNMPTN maupunn SBMPTN. Jurusan keguruan tidak pernah
bertengger di jajaran jurusan yang memiliki peminat terbesar. Kebanyakan siswa
akan lebih memilih jurusan yang dianggap lebih potensial seperti kedokteran,
teknik maupun psikologi.
Padahal untuk memperbaiki pendidikan Indonesia, dibutuhkan
pendidik yang berkualitas. Namun bagaimana caranya mendapat pendidik yang
berkualitas apabila siswa sendiri enggan menjadi guru?
Maka dari itu, negeri ini perlu untuk mengubah profesi
guru menjadi profesi yang menjanjikan. Salah satu caranya adalah dengan
menaikkan gaji guru. Walaupun secara tidak
langsung berpengaruh terhadap kualitas guru, gaji
dan mutu pendidikan memang tak terpisahkan. Jika gaji guru ditingkatkan, akan meningkat pula
status guru sehingga mampu menarik calon-calon guru yang berkualitas.
Jika peminat untuk profesi guru sudah banyak, maka kini
tinggal pemerintah yang secara efektif menyeleksi para peminat itu dan
mengambil yang terbaik untuk menjalani profesi guru. Beberapa kebijakan lar
negeri tentang guru bisa diadaptasi oleh Indonesia, seperti Finlandia yang
tidak mau menerima siswa yang lulus Universitas dengan ranking diluar 10 besar.
Atau juga Singapura yang menerapkan kebijakan satu kali kesempatan menjadi
guru. Maksudnya, apabila seorang guru dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi
mengajar oleh kepala sekolah, maka guru tersebut telah kehilangan kesempatan
mengajar di sekolah manapun.
Kita perlu menyadari pentingnya guru bagi pendidikan
Indonesia. Jika guru merupakan pilar perkembangan negara kita, maka kita harus
mengokohkan pilar tersebut supaya fondasi negara kita tak akan goyah. Hanya orang – orang berkualitas terbaik yang
boleh menjadi guru, karena di tangan orang yang hebat, maka generasi muda
kita-pun juga akan menjadi generasi yang hebat.
Saktia Golda Sakina Dewi
Mahasiswa Desain Produk Industri angkatan 2013


0 komentar:
Posting Komentar